Oleh Andi Noviriyanti
DINI hari, sekitar pukul 1 malam, terdengar teman sekamar, Ayu Wulandari menghidupkan pesan audio. Dikabarkan akan ada swab ulang.
Pemerintah Arab Saudi mencurigai proses swab di Indonesia tidak beres. Karena ada yang sampai di Arab Saudi tanpa dokumen swab, dan juga ada yang tidak tercantum tanggal swab.
Selentingan, juga ada kabar jamaah Indonesia diam-diam keluar hotel, dan ketahuan.
Di dalam WA grup umroh, juga dikabarkan hal yang sama. Akan ada Swab ulang bagi seluruh jamaah.
Langsung terasa asam lambung naik. Kepala rasa nyud-nyud-tan. Sibuk memegang suhu tubuh di kening. Perasaan campur aduk. Terus memanjatkan doa. Jangan sampai Swab ulang. Kalaupun swab, berdoa hasilnya tetap negatif.
“Izinkan jadi tamu Mu ya Robb.. Untuk seluruh jamaah umroh Indonesia,” lirih hati berdoa, menjelang subuh dan sepanjang hari.
Membayangkan proses swab, dan memikirkan hasilnya membuat asam lambung rasa naik. Indikasi stress. Tapi kemudian, berpikir positif dan memasrahkan diri.
Mungkin, karena alasan inilah pembatasan umur untuk jamaah umroh hanya 18 sampai 50 tahun. Karena kita betul-betul harus siap mental, dan siap dengan semua keadaan.
Ditambah lagi jet lag, dimana mata masih menggunakan jam tidur Indonesia. Jam 1 dini hari waktu Saudi sudah bangun, di Indonesia jam 5 subuh. Empat jam lebih dulu Indonesia ketimbang Arab Saudi.
Sejak jam 1 dini hari mendengar kabar swab ulang, mata tak bisa lagi dipejamkan. Akhirnya, sibuk makan. Bikin sereal, bikin susu, bikin mie instan, makan, roti dan lainnya. Mengendalikan rasa lapar.
Lanjut tahajud, mengaji, dan menunggu waktu sholat.
Menyibukkan diri melakukan siaran live, berbagi informasi, dan memberi manfaat di Channel YouTube Andyn Activity dan di Fanpage Andyn Noviriyanti.
Menghibur dan menyibukkan diri, melewati masa isolasi di dalam kamar hotel.
Terus dapat kabar, umroh akan dilaksanakan 4 November, pukul 16.00 WIB. Hingga usai sholat magrib, tidak ada tanda-tanda swab ulang. Perasaan lega.
Tapi, tiba-tiba pintu kamar di ketuk. Seorang anak muda, berdiri di depan pintu kamar.
“Ibu belum swab ulangkan? Langsung ke lantai satu, Bu,” ujarnya.
Mungkin karena hati sudah lebih siap, pasrah, dan ikhlas akhirnya melangkah lebih santai. Tapi, tangan tetap saja terasa dingin.
Teman-teman rombongan jamaah PT Arminareka Perdana lainnya, juga sudah antre di lantai satu untuk proses swab. Selama antre, mencoba untuk bercanda-canda sambil ngambil video dan gambar.
Pas tiba giliran untuk swab, sudah lebih ikhlas dan tenang.
Alhamdulillah, proses swab di Arab menurut saya lebih santai. Hanya satu bagian lobang hidung yang diambil sampelnya, dan tidak ada pengambilan sampel di kerongkongan.
Mungkin, karena saya jauh lebih tenang dan rileks, proses terasa tidak menyakitkan dan sebentar saja.
“Alhamdulillah,” ujar petugas yang mengambil sampel, saat ditanyakan apakah sudah selesai. Dan, rasanya bebas…
Tapi, masih ada yang akan membuat deg-degan. Yaitu menunggu hasil swab.
Doa selalu terpanjat. “Izinkan kami bisa menjadi tamu-Mu ya Robb, untuk melaksanakan ibadah umroh.” (bersambung)
Andi Noviriyanti
Redaktur Riausatu.com










