SEBELUMNYA, saya mengucapkan selamat tahun baru 2023. Semoga di tahun ini ada sebuah Resolusi baru, dan kita bisa mengambil pelajaran di tahun lalu dan terus berbenah untuk menjadi yang terbaik. Khususnya untuk diri sendiri, keluarga, dan yang pasti untuk kemaslahatan orang banyak.
Alhamdulillah, menjelang akhir tahun 2022 ada sebuah road map berkelas sehingga hidup kita tidak monoton pasca dilepasnya PPKM oleh bapak Presiden Joko Widodo.
Pada G20 di Bali tahun lalu, dunia hanya berfokus beberapa negara saja khususnya pada Tiongkok, USA, dan beberapa negara di Eropa, dan ada rapat di dalam rapat karena ulah Joe Biden.
Di awal tahun 2023, pembahasan global masih menitik beratkan pada Amerika, China, Rusia, dan Ukraina (karena negara-negara inilah yang masih berkonflik), USA dan China bersitegang.
Kita harus mampu dalam melihat analisanya dan kedalaman keilmuannya, khususnya untuk mengimplementasikan knowledge untuk kehidupan bernegara.
Jika kita kembali ke persamaan level playing field (kesamaan cara bermain) yang sedang Amerika tekan kepada China. Apa yang mau disamakan?
Ideologi Amerika adalah demokrasi, ideologi China adalah komunisme. Amerika adalah swasta murni (market driven), China adalah government driven cara mengelola ekonominya.
Amerika adalah capitalism, China adalah state capitalism, ini level playing field-nya beda banget. Amerika ingin menerapkan demokrasi sebagai landasan berdagang dan menggunakan alat penekan tarif masuk tinggi saat ini terlebih dahulu terhadap China.
Amerika sangat anti dengan State Capitalism karena untuk menegakkan state capitalism harus menggunakan state autoritarian (menggunakan kekuatan reperesif tangan besi) menekan pasar menggunakan kekuatan negara. Negara seakan menjadi fasis, sehingga pasar bebas seakan tidak ada. Itulah kapitalisme melihat State Capitalism.
Melihat negara berbisnis berbasis BUMN gaya heavy on Government dan less to private atau semuanya pemerintah dan kurangnya peran swasta adalah, ideologi yang harus diterapkan jika sebuah negara ingin menggunakan dana obor China harus Government Driven. Itu seperti terjadi di Srilanka, Afrika, Papua Nugini, dan banyak negara lainnya.
Frame work demokrasi ekonomi dan state driven ekonomi itu dua ideologi berbeda yang menjadi titik awal perang dagang. Ini perang baru senjatanya bukan pistol dan bedil-bedilan, tapi saat ini diawali perang tarif. Dilanjutkan dengan pelarangan produk masuk ke USA, sampai dilarang menggunakan layanan google.
Lalu bagaimana melihat perang ini bagi Indonesia, dan adakah solusinya?
Agar mudah memahami negara mana yang menggunakan state capitalism, yaitu jika mau masuk ke sebuah negara mereka minta Government Guarantee, negara mana yang menggunakan swastanya pada saat deal b to b tapi senatornya bahkan presidennya ikut menekan sebuah negara, ini yang harus kita curigai.
Solusi
Jadi apa langkah ke depannya? Yaitu kita menggunakan ekonomi Pancasila.
Apa itu Ekonomi Pancasila? Yaitu ekonomi berbasis fair trade keadilan bukan free trade.
Kita kembali ke topik perang dagang, state capitalism dan swasta pasar bebas tindakan Amerika melindungi swastanya, tindakan China melindungi komunismenya.
Indonesia sekali lagi harus menerapkan ekonomi Pancasila berbasis fair trade diawali dengan membangun kekuatan dalam negeri. Bangun kekuatan diri sendiri, cukup membuat kebijakan ekonomi baru berbasis produk lokal. ***
Koln, Jerman, 4 Januari 2023.
Fahd El Fouz A. Rafiq
Ketua Umum DPP Barisan Pemuda Nusantara (Bapera)










