oleh

Sidang Kasus Korupsi di Setda Kuansing ‘Menyeret’ Nama Bupati Mursini Ditunda

PEKANBARU – Sidang lanjutan kasus korupsi di Setda Kuansing dengan terdakwa mantan Pelaksana Tugas Sekda Kuansing, Muharlius, dan empat orang lainnya, dengan agenda mendengarkan eksepsi (pembelaan) terdakwa, Kamis  (10/9/2020) di PN Pekanbaru, ditunda hingga Selasa (15/9/2020) depan. Pasalnya, terdakwa belum siap dengan eksepsi atau pembelaannya.

Sidang dipimpin majelis hakim tipikor PN Pekanbaru, Faisal SH MH (ketua) dengan anggota  Darlina Darwis SH MH dan Rahman Silaen SH MH. Pengacara Muharlius, Suroto meminta sidang ditunda karena eksepsi terdakwa belum siap. Hakim mengabulkan permintaan itu.

Ada lima terdakwa dalam kasus ini. Selain Muharlius selaku Pengguna Anggaran, juga MS (Kabag Umum merangkap pejabat pembuat komitmen/PPK), VA (bendahara pengeluaran), HH dan YS (keduanya pejabat pelaksana teknis kegatan/PPTK). Terdakwa mengikuti sidang melalui video konferensi dari Talukkuantan, Kuansing.

Jaksa penuntut umum (JPU) Roni Saputra SH dalam sidang sebelumnya mengatakan, para terdakwa diduga melakukan tindak pidana korupsi pada kegiatan belanja barang dan jasa di Setda Kuansing tahun 2017 sebesar Rp13.300.650.000,-

BACA JUGA:  Wapres Resmikan Retina dan Glaukoma Center RS Mata Achmad Wardi

Ada enam kegiatan yakni dialog dan audiensi dengan tokoh masyarakat, pimpinan dan anggota organisasi sosial dan masyarakat  Rp7,2 miliar, penerimaan kunjungan kerja pejabat negara Rp1,2 miliar, rakor unsur muspida Rp1,185 miliar, rakor pejabat pemda Rp960 juta, kunjungan kerja atau inspeksi kepala daerah Rp725 juta, dan kegiatan penyediaan makan minum (rutin) sebesar Rp1,27 miliar.

Namun, menurut dakwaan jaksa, ada penggunaan anggaran yang tidak sesuai dengan peruntukannya. Penggunaan anggaran inilah yang menyeret nama Bupati Kuansing Mursini, mantan anggota DPRD Kuansing Mus dan RA. Bahkan, ada dana yang disuruh untuk diserahkan ke Ketua DPRD Kuansing, namun tak disebutkan namanya.  Ada juga dana yang dipakai bendahara untuk mengobati orangtuanya.

BACA JUGA:  Unjuk Rasa Lagi, Mahasiswa Desak KPK dan Kejagung Usut Dugaan Korupsi Perkantoran Tenayan Raya

Disebutkan, suatu hari saksi Mursini menyuruh terdakwa MS dan VA untuk menyerahkan uang Rp500 juta ke seseorang di Batam. Setelah berkordinasi dengan terdakwa Muharlius, mereka berangkat ke Batam setelah menukar uang dalam bentuk dolar Amerika di Pekanbaru. Penyerahan uang di lobi bandara Hang Nadim, Batam. Namun, terdakwa tidak tahu orangnya, kecuali ciri-cirinya berkulit hitam dan rambut keriting ikal.

Beberapa hari setelah itu, terdakwa VA disuruh lagi oleh saksi Mursini  ke Batam menyerahkan uang tambahan kepada orang yang pertama tadi senilai Rp150 juta. Namun, kali ini terdakwa MS tak ikut, hanya sampai Pekanbaru.

Di hari lain, terdakwa Muharlius menyuruh terdakwa VA mengantarkan uang Rp150 juta ke saksi Mursini di rumahnya di Jalan Tanjung, Tangkerang, Pekanbaru untuk berobat istrinya. Sebanyak Rp100 juta ditukar terlebih dahulu dengan ringgit Malaysia.

BACA JUGA:  Fantastis! Pasien Positif Corona Riau Hari Ini Bertambah 178 Orang

Terdakwa Muharlius juga memerintahkan VA untuk menyerahkan Rp100 juta ke Ketua DPRD Kuansing. Namun, dalam dakwaan tidak dijelaskan teknis penyerahan tersebut. Muharlius juga minta dicairkan uang Rp80 juta untuk membayar honor Satpol PP menjelang lebaran.

Namun yang agak mengejutkan adalah pemberian uang Rp500 juta kepada anggota DPRD Kuansing Mus atas perintah saksi Mursini melalui terdakwa Muharlius dan terdakwa MS. Tidak dijelaskan untuk apa uang sebanyak itu. Begitu pula dengan uang yang diberikan ke anggota DPRD Kuansing RA sebesar Rp150 juta melalui MS.

Atas perbuatannya, mereka didakwa melanggar Pasal 2 ayat (1) jo Pasal 3, jo Pasal 18 UU RI Nomor 1999 sebagaimana diubah dan ditambah dengan UU RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. (zon/riausatu.com)

Komentar

News Feed