Ada pun arus kunjungan kapal juga mengalami penurunan penurunan sebesar 14,69 persen dibandingkan 2019, yaitu dari 209,12 juta GT menjadi 178,41 juta GT.
“Meskipun industri kepelabuhanan merupakan salah satu industri yang cukup resilient (bertahan) dalam menghadapi pandemi Covid-19 ini, IPC tetap harus berjuang keras untuk meraih peluang bisnis dalam menyambut kondisi new normal kedepannya,” kata EVP Sekretariat Perusahaan IPC Ari Santoso dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa.
Untuk capaian keuangan audited, IPC membukukan penurunan pendapatan usaha sebesar 6,18 persen dari Rp11,1 triliun pada tahun 2019 menjadi Rp10,4 triliun di tahun 2020.
Laba bersih perseroan terealisasi sebesar Rp1,15 triliun atau turun sebanyak 53,79 persen dari tahun 2019 yakni Rp2,5 triliun. Sedangkan EBITDA turun dari Rp3,4 triliun menjadi Rp3,1 triliun atau 10,37 persen.
Ari menuturkan IPC secara konsisten berkolaborasi dengan perusahaan pelayaran dunia dengan memberikan pelayanan rute pelayaran langsung atau direct call ke sejumlah negara antara lain Australia, China, Taiwan, Hong Kong, Korea Selatan dan Asia Tenggara seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam.
Selain itu, sepanjang tahun 2020 lalu, perseroan juga fokus untuk tetap melanjutkan pembangunan sejumlah proyek strategis termasuk terminal pelabuhan hingga jalan tol pendukung.
“Selama masa pandemi, pembangunan beberapa proyek strategis IPC seperti proyek Terminal Kijing, proyek New Priok Container Terminal 2 (NPCT2), proyek Jalan Tol Cibitung Cilincing (JTCC), dan proyek Menara Maritim tetap berjalan baik dengan terus memperhatikan protokol kesehatan yang berlaku,” tutup Ari. (*/cr9)






