PEKANBARU – Setiap tanggal 22 Maret diperingati Hari Air Dunia, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Pekanbaru menyiram parit dengan ecoenzyme.
Kegiatan yang dipimpin oleh Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan dan Pengelolaan Limbah B3 (PPLPLB3), Dra. Jasmiyati, M.Si ini dilakukan di parit yang berada di sekitar Kompleks Perkantoran Datuk Setia Maharaja dengan melibatkan Kepala Seksi, Staf, dan THL.
Kata dia, hari Air Dunia (World Water Day) adalah peringatan yang bertujuan untuk menyadarkan masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sumber air bersih yang berkesinambungan. Pencemaran air adalah salah satu masalah yang dihadapi Kota Pekanbaru.
Diketahui saat ini status anak sungai dan sungai Siak di Kota Pekanbaru mulai tercemar ringan-sedang. Untuk itu diperlukan suatu gerakan nyata untuk mengurangi pencemaran di anak-anak sungai ini. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan menuangkan ecoenzyme ke parit/sungai.
Ecoenzyme adalah hasil dari fermentasi limbah dapur organik seperti ampas buah dan sayuran, gula (gula coklat, gula merah atau gula tebu), dan air. Warnanya coklat gelap dan memiliki aroma fermentasi asam manis yang kuat.
“Saat ini sampah organik merupakan jenis sampah yang paling banyak diproduksi, dengan membuat ezoenzyme kita memanfaatkan sampah tersebut sehingga dapat mengurangi jumlah sampah yang masuk ke TPA. Selain itu ezoenzyme juga dapat mengurangi polusi, membersihkan udara dari racun, sebagai pembersih rumah tangga, dan masih banyak lagi manfaat lainnya,” bebernya, dilansir dari pekanbaru.go.id.
Ia menerangkan bahwa ecoenzyme memiliki beberapa manfaat yaitu dapat mengurangi efek rumah kaca dan global warming. Saat proses pembuatannya akan melepaskan gas ozon (O3) yang dapat mengurangi karbondioksida (CO2) di atmosfer yang memperangkap panas di awan.
Kemudian penuangan ecoenzyme ke parit juga dilakukan karena dapat mengurangi tingkat pencemaran di air. Air dengan ecoenzyme yang ada di parit dan sungai nantinya akan bermuara ke laut. Pada prosesnya enzim mengubah amonia menjadi nitrat (NO3), hormon alami dan nutrisi untuk tanaman.
Sementara itu mengubah CO2 menjadi karbonat (CO3) yang bermanfaat bagi tanaman laut dan kehidupan laut.
“Namun hal ini harus melibatkan massa secara aktif dan berkelanjutan, karena bila dilakukan oleh segelintir orang saja pengaruhnya akan sangat kecil terhadap tingkat pencemaran ini. Untuk itu kami mengajak masyarakat Pekanbaru untuk membuat ezo enzyme di rumah masing-masing. Ketika semakin banyak yang peduli, bergandengan tangan, dan bersinergi, maka tidak akan mustahil pencemaran air dapat ditangani,” pungkasnya. (*/cr1)







