oleh

Perjalanan Umroh di Masa Pandemi Covid-19; 6 Jam ke Masjidil Haram

Oleh Andi Noviriyanti

TIBA-tiba, sekitar pukul tiga siang, dari depan kamar terdengar ribut-ribut. Hati yang penasaran, mengintip dari lubang pintu kamar. 

Ternyata, salah satu jamaah diminta membawa barang-barangnya. Ia akan dipindah ke ruang lain. Padahal, hasil tes swab-nya masih belum clear (dalam proses). Sementara jamaah lain di lantai itu, sudah keluar hasilnya, negatif. Ia terpaksa harus dipisahkan terlebih dahulu.

Tentu ada sedikit perdebatan. “Saya negatif… Saya negatif,” ujarnya, tak mau menerima harus pindah dan membawa seluruh barang-barangnya.

Perasaan campur aduk melihat adegan itu. Sedikit was-was dan sedikit lega. Was-was karena mengkhawatirkan teman yang harus dipindah, dan lega karena artinya kami yang dilantai itu negatif. Artinya, Insyaa Allah bisa melaksanakan umroh.

Pas pukul 16.00, di grup WA dapat info ke lobi hotel untuk persiapan umroh. Tapi, begitu mau keluar pintu kamar, kami distop.

“Masuk lagi, masuk lagi,” kata Bu Fathiarani.

Kami pun segera menutup pintu, dan kembali menunggu di kamar.

“Tadi kami sudah di depan lift. Tapi, ada petugas menyuruh kami masuk kamar lagi,” tulis Dinna Maulia, di grup WA

Di kamar kami menunggu dengan zikir dan doa. “Sedikit lagi ke Baitullah. Permudah ya Allah,” doaku.

Baca Juga  PT SPR Kembali Raih Penghargaan TOP BUMD AWARDS Tahun 2023

Tiba-tiba pintu kamar diketuk. Ayu Wulandari, teman sekamar membuka pintu.

“Bu Ayu, ayo silakan. Kita persiapan umroh,” ujar pria itu.

“Ini semua kan?” kataku.

“Iya semua, Kak,” kata Ayu.

Ternyata, di luar kamar sudah berbaris para jamaah. Tentu dengan menjaga jarak, dan beberapa orang Arab dan Indonesia petugas dari muasasah.

Kami harus berbaris lengkap dulu dari seluruh kamar, baru boleh turun. Setelah lengkap, empat orang turun sesuai tempat yang disediakan di lift. Lift dibatasi hanya bisa diisi empat orang sekali trip. Untuk memastikan kami semua menjaga jarak.

Prosesnya cukup berjalan pelan. Antrean mengular, dan menunggu kelengkapan semua penghuni bus 2.

Saat proses menunggu, terdengar kabar gembira. Yumma,  teman  yang tadi sempat ribut-ribut di depan kamar dan diisolasi, akhirnya dinyatakan negatif dan bisa ikut umroh. Perasaan jadi lega. Dan, semua jamaah di grup kami akhirnya bisa melaksanakan umroh.

Tapi, hujan deras tiba-tiba melanda kota Mekkah. Kami akhirnya antre berdiri mengular disuruh duduk di lobi, sambil tetap menjaga jarak.

Setelah cukup lama menunggu, akhirnya kami dipersilakan masuk ke dalam bus. Namun, air hujan sedikit membasahi kami karena ada celah bus tidak terlalu merapat ke pintu ke luar hotel.

Baca Juga  Riau Tambah 57, Berikut Sebaran 2.137 Kasus Baru Corona di RI 25 September

Meski kami sudah mengambil Miqat, tetap saja kami harus ke Tan’im. Lantaran banyak juga jamaah belum mengambil Miqat.

Di umroh perdana ini, ada beberapa versi tempat pengambilan Miqat. Ada yang di pesawat di langit Ya  Lam Lam. Ada di Bandara King Abdul Aziz, dan ada di Tan’im. Semuanya diperbolehkan saat itu.

Tan’im adalah tempat Miqat terdekat di Kota Mekkah, sekitar 11 kilometer. Sejarahnya, saat itu istri Rasulullah, Aisyah yang ingin melaksanakan ibadah umroh mendapatkan menstruasi. Setelah bersih, ia bertanya pada Rasulullah, bisakah ia umroh.

Akhirnya, dibuatlah batas tanah haram terdekat. Sejak itulah, Tan’im menjadi salah satu tempat Miqat bagi yang ingin melaksanakan ibadah umroh.

Tetesan air hujan deras mengiringi perjalanan kami ke Tan’im. Saat adzan magrib, kami sampai di Tan’im dan memasuki Masjid Aisyah.

Bagi yang belum, mengambil miqat di sini. Sementara yang sudah, hanya sholat magrib kemudian balik ke bus.

Alhamdulilah… Lantunan Talbiyah menggema di dalam bus. Pemandu orang Indonesia yang tinggal di Arab maupun perwakilan dari Arab, bergantian melantunkan Talbiyah.

“Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik laa syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syarika lak.”

Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu.

Baca Juga  Hiks! 6 Pasien Corona Riau Hari Ini Wafat, Cek Data Lengkapnya

Tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu.

Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kerajaan bagi-Mu.

Tidak ada sekutu bagi-Mu.

Dan, bus pun sudah berada di depan Masjidil Haram. Kemudian, datang perwakilan Masjidil Haram menyampaikan ucapan selamat datang dalam bahasa Melayu. Kemungkinan perwakilan tersebut orang Malaysia.

Setelah semuanya usai, kami pikir segera masuk Masjidil Haram. Ternyata, harus menunggu rombongan 11 bus lainnya.

Akhirnya, kami menunggu di dalam bus. Sampai kemudian bus kami disuruh pergi oleh polisi karena terlalu lama menunggu.

Bus akhirnya membawa kami menjahui Masjidil Haram dan  memutar. Berkeliling sambil menunggu rombongan bus lainnya datang.

Hari sudah jelang pukul 9 malam waktu Makkah. Perut sudah mulai keroncongan. Tapi, kami masih di dalam bus. Melewati hotel kami yang berada tepat di depan Masjidil Haram.

Jarak Hotel Hilton Suite hanya 5-10 meter dari pelataran Masjidil Haram. Tapi, kami harus menunggu  berjam-jam, sekitar enam jam, untuk masuk Masjidil Haram.

Setelah beberapa kali putaran bus, akhirnya kami diperkenankan turun. Melewati  penjagaan dan harus kembali antre mengular. Berjalan lambat, dan satu-satu.

Alhamdulillah…

Akhirnya, kami masuk Masjidil Haram. (bersambung)

Andi Noviriyanti

Redaktur Riausatu.com

News Feed