SETELAH melalui jalan panjang; adu strategi, rayuan, bahkan ditambah pundi-pundi, proses Musyawarah Olahraga Provinsi Luar Biasa KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) Riau, mendekati tahap akhir.
Dalam Rapat Koordinasi dan Sosialisasi Tata Cara dan Mekanisme Penjaringan dan
Pemilihan Calon Ketua Umum KONI Riau, Rabu (2/3/2022) di Pekanbaru, disepakati tahap penjaringan 3-6 Maret 2022. Sedangkan Musorprovlub dilaksanakan 14 Maret 2022.
Walau terlihat agak dipaksakan, keputusan bahwa Calon Ketum KONI Riau yang akan maju harus mendapat dukungan tertulis empat KONI kabupaten/kota (30 persen) dan 15 cabang olahraga, sudah diketuk.
Artinya, syarat 30 persen KONI kabupaten/kota yang berjumlah 12 itu, kembali menjadi faktor penentu bisa tidaknya seseorang mencalonkan diri. Seyogianya syarat itu tidak tercantum dalam AD/ART KONI.
Tapi sudahlah. Apapun itu, permainan masih berlanjut. Melihat kondisi terakhir, hanya akan ada dua calon yang terus melaju. Mereka adalah Kordias Pasaribu (Ketum Pengprov Percasi Riau/catur) dan Iskandar Husein (Ketum PABSI Riau/Angkat Besi).
Sebenarnya masih ada satu calon lagi, yaitu Destrayani Bibra, Wakil Ketua KONI Riau periode 2017-2021. Ide, panggilan akrab mantan birokrat ini, tereliminasi gara-gara angka keramat 30 persen itu.
Dalam upayanya selama ini, Ide hanya mendapat dukungan dua KONI kabupaten. Terakhir tinggal satu, karena satunya lagi berhasil direbut calon lain. Padahal, ia sudah didukung oleh 18 cabor.
Seru kan?
Begitulah kondisi terkini pertarungan kursi Ketum KONI Riau periode 2022-2026 mendatang. Suara anggota KONI Riau (12 KONI kabupaten/kota dan 54 cabor) diperebutkan dengan berbagai upaya dan pendekatan.
Tanpa mengabaikan suara cabor, upaya keras dan penuh dinamika terjadi untuk memperoleh dukungan KONI kabupaten/kota. Berbagai hal dilakukan. Lobi-lobi berjalan intens dan ketat.
Puluhan suara cabor pun yang didapat, tetapi kalau tak cukup dukungan tertulis empat KONI kabupaten/kota, tak ada gunanya. Kata kunci untuk bisa maju, 30 persen atau empat suara KONI kabupaten/kota. Itulah istimewanya mereka.
Jadi tak heran jika terjadi saling caplok suara di antara calon ketum tersebut. Berbagai cara dilakukan. Mulai dari hubungan pertemanan, jalur khusus (bisa melalui bantuan pihak lain), bahkan (kabar angin) kucuran dana beralaskan dana pembinaan.
Ada yang lebih menarik. Pada kontestasi perebutan Ketum KONI Riau kali ini, jalur partai politik terasa lebih kental. Untuk mendapat suara KONI kabupaten/kota, tentunya peranan bupati/walikota sangat menentukan arah dukungan. Karena bupati/walikota itu adalah jabatan politik yang didukung partai politik.
Asal tahu saja, Iskandar Husein adalah mantan Ketua NasDem Riau. Sedangkan Kordias pernah menjadi Ketua PDIP Riau. Artinya, kedua tokoh ini adalah kader partai. Mantan ketua provinsi malah. Sehingga wajar jika dukungan itu diperoleh melalui bupati/walikota yang dulunya diusung oleh NasDem dan PDIP. Seperti balas jasalah.
Sampai di sini sudah jelas kan? Dari 12 KONI
kabupaten/kota, diperkirakan Iskandar Husein dan Kordias Pasaribu berbagi sama banyak.
Sedangkan jumlah dukungan cabor, susah diprediksi. Masing-masing tim sukses mengklaim mendapat suara lebih banyak. Belum ada jaminan siapa yang akan menang. Sepertinya belasan cabor pendukung Ide, bisa jadi penentu siapa yang bakal terpilih menjadi Ketum KONI Riau periode 2022-2026.
Itulah kondisi yang terjadi. Mungkin baru kali ini pemilihan Ketum KONI Riau diikuti dua calon yang berasal dari partai politik. Atmosfirnya sangat terasa. Bisa dikatakan, pemilihan Ketum KONI Riau rasa pilkada!
Sayangnya, hanya dua kader partai itu saja yang bertarung? Tidak ada kader partai lain yang ikut? Kalau ada pasti lebih seru. Iskandar Husein dengan Partai Nasdem-nya, jelas didukung penuh oleh Wagub Riau Edy Natar, yang juga kader Nasdem.
Kordias dengan PDIP-nya. Sebagai partai besar dan pemenang Pemilu, pasti tidak akan mau mengalah begitu saja. Seluruh sumber daya jelas akan digunakan untuk bisa menang.
Nah, kalau ada kader Partai Golkar misalnya, pasti akan lebih asyik. Tapi sayang, Ketua Golkar Riau Syamsuar, tidak pernah menunjukkan dukungannya secara terbuka. Orang nomor satu di Riau ini enggan ikut campur dalam perebutan Ketum KONI Riau periode 2022-2026. Padahal, dengan menyebut satu nama saja persoalan pasti selesai.
Tapi, persoalan baru kembali muncul. Pihak Kordias Pasaribu menuding Tim Penjaringan dan Penyaringan (TPP) calon Ketum KONI Riau yang dibentuk caretaker KONI Riau, tidak transparan dan memihak kepada salah satu calon.
Dalam rilisnya Jumat (4/3/2022), Kordias mengatakan bahwa sesuai jadwal yang ditetapkan TPP, pengambilan formulir calon ketum berlangsung tanggal 3-4 Maret 2022. Ia sendiri mengambil formulir Kamis (3/3/2022). Dan, tidak ada calon lain yang mengambil formulir.
Esoknya, Jumat (4/3/2022), sekitar pukul 10.30 WIB, calon yang mengambil formulir adalah Yudesmon. Siang Jumat itu juga, 14.10 WIB, giliran Anis Murzil yang mengambil formulir. Kedua orang terakhir ini sebenarnya adalah tim pemenangan Kordias sendiri.
Jadi, apa sebenarnya tujuan Kordias? Rupanya ia merasa ada sesuatu yang janggal dalam proses tersebut. “Ketika saya ambil formulir, saya disuruh mengisi kolom kedua dalam formulir pendaftaran. Padahal, di baris pertama masih kosong,” ujar Kordias dalam rilisnya.
Begitu juga ketika Yudesmon dan Anis mendaftar, Ketua TPP Lukman Husin meminta keduanya mengisi baris ketiga dan keempat. Sementara baris pertama masih kosong. Hanya Anis Murzil tetap bersikeras mengisi pada baris pertama.
Sampai batas akhir pukul 15.30 WIB, hanya tiga orang yang mengambil formulir calon Ketua Umum KONI Riau; Kordias Pasaribu, Yudesmon, dan Anis Murzil. Tetapi nyatanya, TPP tetap mengumumkan adanya nama Iskandar Husein dalam daftar nama calon Ketum KONI Riau.
Dari kronologis itulah, Kordias menggugat agar Caretaker KONI Riau mengganti TPP tanpa mengganggu jadwal yang sudah diagendakan.
Kordias menilai ada indikasi keberpihakan dari TPP kepada salah seorang calon dan terkesan sebagai tim sukses. Ini terlihat dari upaya Ketua TPP Lukman meminta tim Iskandar Husein untuk mengisi formulir pendaftaran pada malam harinya.
Sepertinya Kordias tidak main-main dalam
menangani kasus tersebut. Saat ini pihaknya sudah menunjuk Dr Denni Dasril SH MH sebagai kuasa hukum. Kemarin, pengacara muda itu sudah melayangkan somasi pertama kepada Ketua Caretaker KONI Riau.
Makin seru nampaknya. Akibat lalai menaati jadwal, berbuah persoalan yang bisa berdampak besar. Eforia kemenangan, membuat siapa saja bisa lupa kepada hal-hal kecil. Karena menganggap seluruh lini sudah dikuasai, membuat orang menganggap remeh pihak lain.
Ingat pepatah orang tua; kerikil kecil yang bisa membuat orang jatuh, bukan batu besar. Semoga semua bisa diselesaikan dengan baik.
Akhirnya siapapun yang terpilih, bisa membuat dunia olahraga Riau lebih baik. Prestasi atlit Riau yang membanggakan, semakin baik di bawah komando ketua umum baru dengan pengurus yang berkualitas.
Satu hal lagi. Seandainya Iskandar Husein yang terpilih, jangan sampai KONI Riau menjadi biru. Sebaliknya, jika Kordias Pasaribu yang beruntung, janganlah pula warna KONI Riau berubah merah. Ingat, masih banyak warna-warna lain di luar sana.
Selamat bekerja. Salam Olahraga!! **
Helmi Burman
Pimpinan Cabang Riau.Siberindo.co








