oleh

BEM Nusantara Protes PLN Beli Saham PT MCTN, Indikasi Ada Permainan?

JAKARTA – Aliansi mahasiswa BEM Nusantara menuding adanya indikasi permainan pembelian Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) milik PT Mandau Cipta Tenaga Nusantara (MCTN) dan Transfer Pricing oleh PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) yang merugikan Indonesia.

“Hari ini saya sampaikan bahwa Blok Rokan sedang tidak baik-baik saja. Banyak ditemui potensi kerugian Negara atas pembelian PT MCTN, jelas ini permainan pemburu rente dan moral Hazard,” sebut Koordinator Pusat BEM Nusantara Eko Pratama, dalam keterangan persnya, yang diterima redaksi media siber ini.

Eko mengecam penandatanganan Conditional Sale & Purchase Agreement (SPA) Perjanjian Jual Beli Saham (PJBS) PT CTN pada Selasa (6/7/2021), mengecam tindakan Chevron yang menyandera listrik Blok Rokan dan memaksa negara menggelontorkan dana melalui skema pembelian saham PT MCTN.

“Saya juga menyayangkan sikap Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang seharusnya menjadi pelelang proyek kelistrikan di Blok Rokan, bukan malah ikut menjadi pemburu untuk kepemilikan PT MCTN, jelas itu perbuatan yang tidak masuk akal. Barang bekas dengan harga tinggi itu sangat merugikan Negara,” tegasnya.

Baca Juga  Disperindag Akan Gelar Pasar Murah di Sejumlah Kecamatan

Mahasiswa Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) Surabaya itu menambahkan, PT MCTN tidak dilibatkan dalam proses peralihan asset oleh PT CPI dengan dalih bahwa PT MCTN tidak termasuk dalam cost recovery.

Menurutnya, listrik dan steam uap merupakan inti bisnis migas, dikarenakan listrik dan steam uap sangat berpengaruh terhadap produksi/lifting migas.

PT PLN, sebutnya, membutuhkan waktu tiga tahun agar bisa memenuhi kelistrikan dari Blok Rokan, dan ditambah lagi komitmen yang ditandatangani pada 2 Februari 2019 menjadi beban.

Baca Juga  Mangkir Sidang, Chevron dan SK Migas Dianggap Melakukan Penyelundupan Hukum Tak Bermoral

Atas dasar tersebut, bebernya, PT PLN masuk dalam salah satu perusahaan yang ingin  membeli PT MCTN dengan harga yang tidak wajar, yaitu Rp40 triliun.

‘’Intinya, kami mengecam tindakan PLN ini, dan kami akan mengonsolidasikan kepada seluruh mahasiswa yang tergabung dalam aliansi BEM Nusantara khususnya daerah Riau, untuk bahu-membahu tuntaskan masalah ini,” pungkas Eko. (*/nb)

News Feed