PEKANBARU – Ruang perawatan Covid-19 di RSUD Ariffin Ahmad Pekanbaru tak mampu lagi menampung ledakan pasien covid. Akibatnya tiga pasien covid harus antri menungu. Selain itu ventilator juga tak ada yang kosong, hingga ketiga pasien tak bisa langsung ditangani.
“Terus terang kita bingung mau menempatkan pasien dimana lagi, 73 ruangan covid penuh semua,” ujar jubir Gugus Tugas Riau dr.Indra Yovi.
Menurut dr.Indra Yovi, jika ketiga pasien tidak segara ditolong oleh alat ventilator, bisa mengancam jiwa mereka. “Bisa saja meninggal,” ujar Yovi cemas.
Kekurangan alat kesehatan di RSUD Ariffin Ahmad Pekanbaru sangat terasa sejak jumlah pasien covid di Riau terus bertambah setiap hari. Dalam minggu ini saja penambahan pasien selalu diangka seratus, bahkan mendekati angka 200 setiap harinya.
Dokter Yovi mengisahkan, pasien positif yang belum tertangani di RSUD teriak-teriak munta segera ditangani. Tetapi karena tidak ada lagi ruangan dan peralatan, mereka terpaksa ngantri.
“Mau kita mints isolasi mandiri, rumah mereka kebanyakan tidak layak,” tutur Yovi sedih.
Terkait kekurangan alkes ini, berbanding terbalik dengan anggaran covid Riau yang serapannya belum mencapai 50 persen, yakni baru 49,03 persen, dari total anggaran Rp477 miliar. Ada kehati-hatian yang berlebihan oleh pihak BPKAD Riau dalam menggunakan anggaran tersebut.
“Kita hati-hati sekali menggunakan anggaran covid, makanya serapan anggarannya madih rendah. Kita tak ingin ada masalah dikemudian hari,” ujar Kepala Badan Pengelola Keuangan Asset dan Daerah (BPKAD’) Riau, Jumat (11/9).
Dengan kondisi darurat ini Pemprov Riau diharapkan cepat tanggap, karena kesehatan masyarakat lebih penting.(Nin/Iniriau.com)








Komentar