oleh

Praktisi Migas Kritisi Merosotnya Deviden PT BSP, Ini Kata-katanya

PEKANBARU – Praktisi migas Aris Aruna mengkritisi turunnya deviden PT. Bumi Siak Pusako (BSP) yang cukup signifikan pada tahun 2021 dibandingkan tahun 2020, yakni dari Rp14,964 miliar merosot tajam Rp3,962 miliar.

‘’Dibanding tahun lalu, selisih penurunan deviden BUMD PT BSP tahun ini cukup signifikan. Cukup besar penurunannya, mencapai 83 persen,’’ ujar Aris Aruna kepada media siber ini, Senin (23/8/2021).

Seperti diberitakan, Kepala Biro Ekonomi Pemprov Riau Jhon A Pinem mengatakan, pada 2021 deviden PT BSP mengalami penurunan yang cukup signifikan dibanding 2020. Tahun lalu Rp14,964 miliar, tahun ini hanya Rp3,962 miliar.

Baca Juga  Penghargaan SMSI: Azyumardi Azra Pelopor Pers Merdeka

Semestinya, saran Aris Aruna, PT. BSP melakukan business process improvement guna memperbaiki kinerjanya agar performance segera membaik, fokus melakukan terobosan-terobosan baru mempertahankan laba atau menaikkan laba.

‘’Sehingga ketinggalan setor deviden bisa ditutup tahun berikut dalam rangka memberikan semangat setiap share holder, untuk dapat meningkatkan penyertaan modal dalam pengembangan usaha,’’ bebernya.

Dari sisi proses produksi, sebut Aris Aruna, ada hal penting yang harus dilakukan PT. BSP untuk meningkatkan kinerjanya, yakni OEE (overall equipment effectiveness). OEE adalah availability x performance x quality.

‘’Sementarara dari sisi keuangan, tentu pihak management secara internal yang lebih paham, apa saja improvement yang harus dilakukan,’’ ungkap Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Asosiasi Pengusaha Jasa Penunjang Migas Indonesia (APJPMI) ini.

Baca Juga  Tingkatkan Kualitas Pendidikan, PLN Icon Plus Sediakan Internet Andal untuk Ponpes Imam Dzahabi

Semua ini, imbuh Aris Aruna, mesti disikapi dengan positif thinking. ‘’Kita sedang membangun narasi positif agar semua share holder tetap bersemangat, termasuk kabupaten kota yang bersentuhan dengan operasi migas, agar keikutsertaan mereka dalam penyertaan modal tambahan terus meningkat.’’

Dengan demikian, PT. Pertamina Hulu Rokan (PHR) sebagai operator baru Blok Rokan mesti melibatkan BUMD mengelola lapangan yang berdekatan dengan lapangan BSP, dan termasuk kategori remote area.

‘’PHR dengan Scheme Gross Split, menuntut mereka untuk melaksanakan operasi Blok Rokan secara efektif dan efisien,’’ tegas Ketua Forum Peduli Migas Riau ini.

Baca Juga  Pembangunan Gedung BSP Minus, Pemutusan Hubungan Kerja PT BA Sudah Sesuai Kontrak!

Kemudian, optimalisasi semua unit bisnis (operasi), undang provider teknologi untuk mendukung pencapaian target produksi mereka sebenarnya, partner bisnis tawarkan Scheme OPEX bukan Cavital.

‘’Bangun dan ciptakan operation excellent untuk semua business partner dengan tetap mengedepan profesionalisme dalam menjalankan kegiatan operasinya, dengan motto no accident no down time,’’ pungkas Aris Aruna. (nb)

News Feed