SAROLANGUN– Keputusan Pemprov Jambi melarang mudik antar kabupaten dan kota dalam Provinsi Jambi masih menuai pro dan kontra di tengah masyarakat. Penyengatan yang mulai dilakukan di jalur mudik tiap kabupaten kota tersebut, membuat sebagian masyarakat mengelauh. Salah satunya adalah sopir Angkutan Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP).
Tarmizi, salah seorang sopir AKDP di Sarolangun mengatakan, ia bersama sopir lainnya akan kesulitan jika penerapan larangan keluar masuk daerah benar-benar diberlakukan. “Kita minta tolong ada keringanan lah. Kami butuh uang untuk bayar (Zakat, red) Fitrah, beli baju anak, dan kebutuhan lainnya,” katanya, Kamis (29/4).
Tarmizi bersama rekannya sesame sopir meminta Pemerintah bisa mengizinkan mereka tetap narik penumpang. Atau ada solusi lain untuk mengatasi kesulitan mereka. ‘’Jika aturan mengenai pelarangan mudik tersebut tidak berubah, kami harap ada solusi dari pemerintah untuk kelangsungan hidup para sopir angkutan yang harus terpaksa berhenti beroperasi,’’ kata sopir Travel jurusan Sarolangun-Jambi ini.
Menurut dia, pemerintah harus bijak membuat keputusan. Pemerintah juga harus memperhatikan nasib mereka yang mata pencariannya dari angkutan.
Sementara itu, di grup grup whatsapp dan media sosial juga beredar status yang berisi keluhan para sopir. Tulisan dengan judul ‘’Jeritan hati pak sopir’’ itu banyak mendapat simpati dari para nitizen.
Berikut isi tulisan ‘’Jeritan hati pak sopir’’ yang beredar tersebut.
Kami para sopir angkutan memohon kepada Bpk.Gurbenur.walikota.bupati
Dengan menutup pintu keluar masuk propinsi secara tidak langsung membunuh mata pencaharian kami..
Jangan biarkan anak2 kami menangis pilu di saat anak2 kalian tertawa gembira
Jangan biarkan kami kelaparan di saat kalian terlelap tidur karena kekenyangan. Karena anak. istri berikut kredit mobil kami tidak di tanggung oleh Negara.
Kenapa harus kami yg di korbankan karena ketakutan kalian yg tidak kami takuti..
Yang kami takuti apabila anak dan istri kami mati kelaparan Krn tidak dapat makan.. siapakah yg bertanggung jawab?
Padahal Allah menyuruh kami tetap berusaha dan bertanggung jawab kepada anak dan istri kami. Itu yg kami pertanggung jawabkan di akhirat nanti.
Kenapa kami selalu di hadapkan dengan aparat hukum di bentak di hardik seakan kami ini teroris..Padahal kami ini adalah pejuang dan pahlawan bagi keluarga kecil kami..
Di saat kalian berbagi THR kami hanya bisa berkata ‘Apakah esok hari anak2 kami dapat makan?’
Apakah kalian pernah merasakan di saat semua orang tidur nyenyak ada seorang sopir tetap terbangun dan bekerja menafkahi keluarganya demi memberikan kehidupan yg layak utk anak istrinya.
Apakah ada cara lain yang bijak dengan tidak membunuh mata pencaharian kami..berilah aturan yg adil buat kami semoga dapat hidayah ..
Wassalam
Curahan hati seorang sopir angkutan
Izin berbagi kesedihan kami
Tak terbayang juga kalau mereka diposisi kita sebagai pencari nafkah dijalanan
#SalamSatuAspal2716. (*/cr1)

