oleh

Perjalanan Umroh di Masa Pandemi Covid-19; Tak Berani Pamit

Oleh Andi Noviriyanti

PAGI itu, Ahad (1/11/2020), pukul 06.15 WIB, saya sudah berada Bandara Soekarno-Hatta. Dua kopor dan satu tas selempang, menemani saya.

Hari itu adalah hari yang mendebarkan. Dijadwalkan, itulah hari pertama umroh dibuka setelah ditutup delapan bulan sejak Coronavirus Desease 2019 (Covid-19) mewabah.

Meski sudah berada di bandara, saya belum punya nyali berpamitan. Kecuali pada orang-orang terdekat, keluarga. Lantaran meski sudah berada di bandara, belum bisa dipastikan saya bisa berangkat, karena umroh perdana ini mengikuti aturan Covid-19.

Umroh di masa pandemi, semua yang berangkat harus bebas dari virus Corona. Itu harus dinyatakan dari hasil PCR (Polymerase Chain Reaction), yang sampelnya diambil dengan metode swab. Prosesnya, dengan memasukkan kapas lidi ke rongga hidung dan mulut. Bagi yang tidak tahan, bisa mengeluarkan air mata dan perasaan mau muntah.

Proses swab hanya bisa dilakukan di rekanan yang ditunjuk oleh Pemerintah Arab Saudi. Itu hanya ada di Jakarta, dan harus diambil maksimal 72 jam sebelum keberangkatan.

Pesawat yang digunakan harus menggunakan maskapai Saudi Arabia. Pesawat ini pun hanya terbang satu kali dalam satu hari.

Baca Juga  Riau Sumbang 2, Berikut Sebaran 347 Kasus Baru Corona RI 16 November

Pagi itu, saya menghubungi Direktur Marketing PT Arminareka Perdana, Riani Rilanda. Rindang –panggilan akrabnya, akan ikut dalam rombongan umroh perdana sekaligus mengurus pemberangkatan jamaah.

Rindang menyebutkan, hasil PCR belum ada di tangannya. Tapi nama-nama yang positif sudah keluar, dan tidak ada nama jamaah Arminareka Perdana.

Namun, bukti kita negatif juga belum ada. Ditambah info pagi itu, sekitar tujuh orang dinyatakan positif Covid-19. Angka itu terus bertambah.

Sampai akhirnya, liputan media TV One sekitar pukul 07.40 WIB tentang pemberangkatan umroh, ditayangkan langsung dan saya sempat diwawancarai. Dari situlah, tersebar luas pemberangkatan saya.

Meski sudah tersebar luas, saya hanya menyatakan Insyaa Allah berangkat. Karena sesungguhnya hati saya masih berdebar-debar, apakah bisa berangkat atau tidak. Karena fisik hasil PCR, belum di tangan pihak travel.

Sekitar pukul 08.57 WIB, baru ada kepastian semua jamaah umroh Arminareka Perdana yang berangkat pagi itu, hasilnya negatif Covid-19. Akhirnya, pukul 09.00 saya berani mengumumkan secara resmi untuk berpamitan.

Keberangkatan umroh di musim pandemi, tidak mudah. Kita harus terlebih dahulu menjalani swab test. Bahkan, sampai di bandara kita tidak tahu pasti, apakah bisa berangkat atau tidak. Karena keluarnya hasil PCR dan visa kerja, jadwal keberangkatan sangat mepet. Kita hanya perlu siapkan diri.

Baca Juga  Pidato Kenegaraan: Bukti Presiden Komit Wujudkan Janji dan Program

Jadwal swab saya waktu itu, sekitar pukul 15.00 WIB, tanggal 31 Oktober. Sementara berangkat pukul 11, pada 1 November. Visa baru keluar setelah hasil PCR tes keluar. Jadi, bisa dibayangkan hebohnya proses perjalanan umroh saat ini.

Itu juga yang menyebabkan keberangkatan pagi itu delay hampir tiga jam. Karena banyak dari jamaah yang hasil PCR-nya belum keluar. Bahkan, terakhir sesaat sebelum saya memasuki pesawat terdengar kabar sudah 30 positif Covid-19. Sekitar 100 belum keluar hasilnya.

Belakangan saya dapat kabar setelah tiba di Mekkah, ada beberapa jamaah histeris karena hasil PCR-nya keluar pas lima menit setelah pesawat take off.

Akibatnya, di dalam pesawat yang seharusnya berangkat sekitar 360 orang, hanya sekitar 250-an yang berangkat.

Berangkat umroh di musim pandemi benar-benar terseleksi. Mulai dari pembatasan usia hanya 18 sampai 50 tahun, sampai harus menjalani proses swab di Jakarta.

Jika bukan karena panggilan Robb, mungkin saya tidak begitu punya nyali untuk menjalani proses swab. Selain prosesnya tidak nyaman, juga takut hasilnya. Pun trauma melihat orang-orang terdekat terkena Covid-19. Beberapa masuk rumah sakit, dan satu meninggal.

Baca Juga  Kasus Baru Corona di Riau pada 9 November: Tambah 5, Sembuh 15

Sesampai di Arab Saudi, di Bandara Jeddah pengawasan untuk PCR test sangat ketat. Bahkan, lebih ketat dari pengawasan imigrasi.

Meski ada suasana horor dalam menghadapi virus Corona, tapi ada juga yang senyum tersungging. Saat datang, jamaah Indonesia disambut dengan ucapan selamat datang dan hidangan coklat dari pihak Arab Saudi.

Begitu juga ketika sampai di dalam hotel. Jamaah disambut dengan welcome drink dan setangkai bunga mawar merah. Semua seperti berbahagia menyambut jamaah umroh perdana ini.

Namun lagi-lagi itu bukan akhir. Sesampai di hotel semua bagasi jamaah di-disinfektan. Lalu, semua jamaah dari lobby disuruh naik ke kamar masing-masing.

Semua mesti melalui proses isolasi mandiri. Selama tiga hari, harus menjalani proses isolasi di kamar masing-masing. Makanan box diantar petugas hotel setiap jam makan.

Jamaah yang coba-coba turun ke lobby hotel, akan disuruh segera kembali ke kamar. Siapa yang melanggar proses isolasi, akan didenda 10.000 SAR atau sekitar Rp38,6 juta. (bersambung)

Andi Noviriyanti

Redaktur Riausatu.com

News Feed