oleh

Perjalanan Umroh di Masa Pandemi Covid-19; Sedih Tak Bisa Shalat Berjamaah

Oleh Andi Noviriyanti

PERASAAN haru, bahagia membuncah saat langkah kaki pertama memasuki Masjidil Haram. Suasananya, sama ketika kali pertama masuk ke Masjidil Haram.

Tetap ada petugas berjaga di pintu masuk. Khusus memeriksa tas tenteng para jamaah. Tas tenteng perempuan diperiksa petugas perempuan bercadar dan memakai pakaian serba hitam.

Pemandangan di dalam, tak ada begitu berubah. Petugas kebersihan dengan baju hijau, tetap beraktivitas seperti biasa.

Yang berbeda, tidak banyak lagi jamaah yang biasa berseliweran di Masjidil Haram. Pun tak terlihat, jamaah yang biasanya duduk-duduk mengaji atau itikaf di Masjid.

Tidak ada lagi galon air zam-zam yang biasa terlihat di sisi jalan. Air zam-zam hanya diperoleh dari botol yang diberikan petugas khusus. Atau dari gelas yang dibagikan petugas yang membawa galon air zam-zam di punggungnya.

Dari lantai tempat masuk, kami turun dengan eskalator menuju Kabah. Kabah berada di lantai dasar Masjidil Haram. Ini saat-saat yang mendebarkan melihat kembali Baitullah.

Namun, tak bisa berlama-lama –dalam rasa haru— memandang Kabah. Kami harus terus bergerak. Tidak boleh berhenti atau bergerombol.

Biasanya saat umroh normal, sebelum masuk area tawaf kita akan berhenti dan berdoa memandang Kabah bersama-sama, dipimpin Mutawif. Tapi, kali ini tidak. Kita harus terus bergerak, memasuki area tawaf.

Baca Juga  Alhamdulillah! 1 November Kasus Corona Riau Turun Drastis, 171 Sembuh

Lalu, mengikuti garis-garis yang sudah ditentukan untuk menuju titik tawaf dimulai, sejajar Hajar Aswad.

Tidak ada aba-aba dari pembimbing. Umroh kali ini, harus benar-benar mandiri. Harus kuat ilmu untuk tahu kapan tawaf dimulai.

Kami sepakat bertawaf di putaran paling jauh. Meski ada putaran lebih dekat, kami memilih tetap di jalur yang sudah kami pilih.

Itu kami lakukan agar bisa puas berdoa dalam tawaf. Karena begitu selesai, setiap jamaah harus segera meninggalkan area Tawaf.

Di area tawaf, semua orang menjaga jarak sesuai garis-garis yang ditetapkan. Tidak ada lagi yang berdesak-desakan yang menjadi khas saat melaksanakan tawaf sebelum pandemi Covid-19 menyerang dunia. Apalagi, yang didekat area Multazam (antara Hajar Aswad dan pintu Kabah).

Sekitar dua meter dari area Kabah, sudah dipagar dengan pembatas batu putih. Tidak ada lagi yang berada di Hijir Ismail.

Setelah tujuh putaran tawaf, kami pun bergerak ke arah belakang Maqam Ibrahim (jejak kaki Nabi Ibrahim saat membangun Kabah), untuk melaksanakan sholat sunat tawaf. Karena belum shalat Isya, kami lalu melaksanakannya sendiri-sendiri.

Tak lama shalat dan duduk berdoa, petugas sudah menyuruh kami pergi meninggalkan area shalat untuk segera bersa’i.

Ada seorang pemuda Arab perwakilan muasasah yang mengawal kami,  mengingatkan untuk segera ke area sa’i.

Baca Juga  Riau Kembali Empat Besar, Ini Sebaran 6.243 Kasus Baru Corona di RI 22 April

Sebelum bergerak meninggalkan area itu, kami menyempatkan diri berfoto dengan latar belakang Kabah. Tentu tetap menjaga jarak.

Kemudian kami menuju tempat sa’i, terlihat lebih bebas. Khusus malam itu, cukup ramai. Tidak ada garis-garis pembatas. Di area sa’i, bebas bergerak dan melaksanakannya. Tapi, tetap dilarang bergerombol.

Polisi standby menegur bila melihat ada yang bergerombol. Akhirnya, kami masing-masing harus melaksanakan sa’i secara mandiri.

Usai melaksanakan sa’i, ditutup dengan Tahalul (memotong beberapa helai rambut). Tanda berakhirnya umroh, dan tidak lagi berlaku larangan Ikhram.

Setelah itu, kami diarahkan segera pulang ke hotel. Petugas muasasah menunggu kami selesai berfoto, mulai dari daerah sa’i sampai dalam perjalanan.

Beberapa di antara kami ada yang ingin langsung belanja. Ada yang ingin makan ayam Albaik, KFC versi Arab. Ternyata, tidak diizinkan. Kami harus dipastikan kembali ke hotel, dan harus masuk kamar lagi.

Ternyata, proses isolasi kami belum berakhir. Kami kembali masuk ke dalam kamar, tidak boleh keluar. Bahkan, ketika ada teman berkirim makanan pun, tidak diizinkan masuk.

Kami harus menjalani isolasi lagi. Selama dua hari untuk melihat, apakah ada perkembangan virus Corona usai umroh.

Alhasil, walau kami sudah di Mekah sejak 1 November hingga hari ini, 6 November. Tapi, tidak sekalipun kami bisa shalat berjamaah di Masjidil Haram.

Baca Juga  Riau Peringkat Tiga, Ini Sebaran 5.436 Kasus Baru Corona di RI pada 23 April

Masuk ke dalam Masjidil Haram pun hanya sekali, yakni saat umroh. Selanjutnya, kami kembali hanya bisa memandang Masjidil Haram dari balik jendela kamar hotel.

Teman-teman titip doa dan minta didoakan di depan Kabah, belum bisa dibacakan. Karena belum ada kesempatan untuk masuk kembali ke Masjidil Haram. Apalagi, berlama-lama di Masjidil Haram.

Dapat kabar, kami baru bisa masuk Masjidil Haram pada saat shalat subuh, Sabtu, 7 November 2020.

Saat ini, kami masih terkurung di kamar. Tidak boleh berkumpul dengan yang lain kecuali teman sekamar.

Satu pelajaran penting umroh di masa pandemi ini, yakni jamaah harus membawa banyak makanan.

Walau pihak hotel menyediakan makanan setiap jam makan, tapi perut masih memakai jam makan Indonesia. Sementara makanan diantar jam makan waktu Mekah. Padahal, waktu Indonesia empat jam lebih dulu dari Arab Saudi.

Untung saya membawa bekal mie instan, sereal, sambal bungkus, snack, dan roti. Jika tidak, mungkin saya sangat kelaparan. Lantaran kerap kali makanan baru datang pukul 8 pagi, atau jam setengah dua siang.

Saat ini, kami masih bersabar untuk bisa keluar kamar. Dan, bisa kembali beribadah di Masjidil Haram. (bersambung)

Andi Noviriyanti

Redaktur Riausatu.com

News Feed