oleh

Refleksi, Retrospeksi, dan Resolusi Menapaki Tahun 2023; Catatan Kritis Fahd El Fouz A Rafiq

TAHUN 2023, tinggal menghitung hari. Persoalan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari tantangan kebangsaan, politik, ekonomi, dan sosial dipastikan kian berat.

Ancaman resesi ekonomi sudah di depan. Belum lagi, kontestasi politik menuju Pileg dan Pilpres 2024, sudah pasti akan diwarnai persaingan sengit.

Menghadapi tahun krusial 2023, tidak ada jalan lain, sesuai komitmen bersama kita mesti memperkokoh empat pilar kebangsaan.

Pancasila harus hadir kembali dalam jiwa, sanubari, dan alam bawah sadar masyarakat Indonesia terutama kalangan generasi mudanya.

Penguatan Ideologi Pancasila adalah tameng agar anak bangsa terhindar dari ideologi transnasional yang ingin mengacak-acak NKRI. Dan yang pasti, kita mesti kembali menggaungkan rasa Nasionalisme dan Patriotisme kepada generasi penerus bangsa.

Sejarah Singkat Kota Carcassonne
Carcassonne salah satu kota di Prancis, masuk kawasan Eropa Barat. Data terbaru Juli 2022, Prancis memiliki penduduk kurang lebih 70 juta jiwa, terletak di bagian selatan tepatnya di Region Languaedoc–Rousillon.

Carcassonne dikenal sebagai kota abad pertengahan. Berdiri di atas puncak bukit, sehingga dapat dilihat dari jauh. Kastil ini selalu menjadi penting bagi pasukan mana pun yang ingin menguasai Prancis Selatan.

Kastil ini sangat strategis yang mengendalikan persimpangan antara jalur ke Samudera Atlantik, Laut Tengah, Prancis, dan Spanyol.

Sekitar tahun 500 SM, suku Kelt telah mendirikan benteng di Carcassonne. Ketika Romawi menaklukkan Galia pada 100 -an SM, mereka membangun benteng yang lebih baru dan kuat. Sebagian benteng kuat dan kokoh itu, menjadi bagian dari kastil ini.

Pada 453 M, suku Visigoth menaklukkan Carcassonne dan memperkuatnya. Ketika Umayyah mengalahkan Visigoth pada awal 700-an M, mereka juga menguasai Carcassonne. Namun, raja suku Franka, Pippin, merebutnya kembali pada 759 M.

Para raja Meroving menyerahkan Carcassonne kepada Count Toulouse. Pada 1067 M, para Count Touluse membangun benteng yang baru dan lebih kuat di Carcassonne untuk menggantikan benteng lama Visigoth.

Baca Juga  Isu Uang dalam Musorprov KONI Riau, Catatan Helmi Burman

Mereka membangun kastil dalam, dengan sumur di dalamnya supaya air bisa diperoleh tanpa perlu meniggalkan kastil. Jendela kecil untuk menembakkan panah juga ditambahkan.

Pada 1209 M, para raja Prancis telah menjadi semakin kuat dan mampu merebut Carcassonne dari para Count Toulouse.

Prancis kemudian menggunakan Carcassonne sebagai benteng utama untuk mempertahankan perbatasan dengan Spanyol. Mereka juga membangun tembok tambahan untuk memperkuatnya.

Introspeksi
Akhir tahun 2022, telah mencapai ujung perjalanannya. Sebentar lagi, kita akan menapaki tahun 2023. Pergantian tahun ini hendaknya tidak berlalu begitu saja, tanpa makna.

Hal terbaik yang harus kita lakukan adalah muhasabah (introspeksi) untuk memperbaiki wajah kita sendiri, wajah beragama, persatuan, dan yang pasti wajah Indonesia.

Imam Ghazali, bapak tasawuf modern, mengingatkan kita akan pentingnya introspeksi diri. Tidak hanya pada saat tutup tahun, namun setiap hari kita dianjurkan untuk diam sejenak mengoreksi diri.

Sekadar mengingatkan, dalam karya monumentalnya yaitu Ihya’ Ulumuddin Bab IV Halaman 420. Setelah kesadaran itu tumbuh dalam jiwa, kita selanjutnya memanjatkan doa akhir tahun “Ya Muhawwil Ahwal, Hawwil Halana ila Ahsanil Ahwal (duhai tuhanku, Wahai Dzat yang mengubah keadaan, ubahlah keadaan kami kepada sebaik baiknya keadaan)”.

Peganglah sebuah komitmen bahwa kemerdekaan negeri ini yang termaktub dalam nilai persatuan, kebersamaan, toleransi di tengah perbedaan dan harmonis adalah (hal mutlak).

Hal tersebut dikokohkan dalam prinsip UUD 1945 yang menjadi komitmen berbangsa dan bernegara kita. Dan, sekaranglah saat yang tepat untuk melakukan refleksi sekaligus resolusi.

Refleksi untuk menelaah ulang apa yang telah terjadi selama setahun belakangan; apa yang sudah dan belum tercapai.

Proyeksi dan resolusi dalam artian menyusun rencana dan target selama setahun ke depan.

Melihat perjalanan bangsa selama setahun terakhir, kita dihadapkan pada beragam residu persoalan kebangsaan paling berbahaya ialah terjadinya apa yang disebut sebagai korosi ideologi.

Baca Juga  Pokir, Parkir, Ehh Pikir..., Catatan Novrizon Burman

Serbuan ideologi asing yang bertentangan dengan falsafah bangsa membuat ideologi nasional mengalami korosi atau semacam pengapuran dari dalam.

Alhasil, ideologi nasional pun menjadi rapuh. Pancasila yang menjadi salah satu pilar kebangsaan pun mengalami degradasi alias kemerosotan.

Sejumlah survei mendapati adanya kecenderungan generasi muda Indonesia tidak lagi mempercayai Pancasila sebagai ideologi bangsa.

Dunia Global 
Si Vis Pacem Para Bellum (Jika kau mendambakan perdamaian bersiaplah untuk perang). Kalimat ini  sangat terkenal di zamannya, khususnya masa Imperium Romawi!

Ungkapan ini menjadi adagium bagi para agresor pecinta perang pada saat Romawi menjadi imperium dunia.

Napoleon Bonaparte sampai membalik ungkapan itu agar sesuai dengan naluri kekuasaannya.
Dia mengatakan Si Vis Bellum Para Pacem jika mengharapkan perang, bersiaplah untuk Perdamaian.

Sepertinya adagium di atas berlaku saat ini, di mana tipe kepala negara bertipe agresor unjuk gigi seperti Vladimir Putin yang melakukan penyerangan sejak 24 Februari 2022 dan saat ini telah sukses menganeksasi empat provinsi Ukraina.

Selanjutnya, ada Xi Jin Ping yang melakukan ekspansi besar-besaran dalam bidang ekonomi dan perdagangan ke seantero dunia dan terus menantang hegemoni negeri Paman Sam.

Bukan hanya itu, Presiden Tiongkok ini juga sudah menyiapkan angkatan perangnya untuk mengambil kembali Taiwan, yang hanya tinggal menunggu waktu saja bedil-bedilan itu meletus.

Negara lain seperti Turki, siap mencaplok Yunani akibat konflik yang berkepanjangan soal siapa yang berhak mengeksplorasi laut Mediterania.

Di sisi lain, negeri Tirai Bambu terus memprovokasi atas klaim Lembah Galwan yang berbatasan langsung dengan India.

Sejak 2015-2016 silam, rencana besar telah dieksekusi Tiongkok dengan membelokkan Sungai Galwan yang berakibat kekeringan dan kelaparan di India.

Sebaliknya, Negeri Hindustan ini juga sedang membangun kekuatan ekonomi untuk menduduki posisi tiga besar menjadi negara super power.

Belum lagi di Asia Timur, Korea Utara yang selalu menggertak dengan senjata nuklirnya dan rudal anti balistik yang selalu ditembakkan, membuat negara tetangganya meriang.

Baca Juga  Kontroversi HGU PT. TUM di Pulau Mendol Riau, Larangan Bekerja di Tanah Pribadi

Yang jadi pertanyaan adalah, apakah Kim Jong Un akan menggertak terus? Saya yakin, suatu saat akan mencapai titik klimaksnya.

Jadi jika disimpulkan, dunia global saat ini sedang mempertontonkan pertarungan para pemimpin bertipe agresor.

Pulau Sipadan, Pulau Ligitan, Perairan Sambas, Kepulauan Riau, dan Pulau Sebatik adalah pulau-pulau yang sering diklaim Malaysia.

Dan, dua pulau telah diklaim Malaysia dan menang di Mahkamah Internasional. Artinya, apakah lobi-lobi Indonesia lemah di dunia Internasional.

Bahkan, Mahathir Mohamad mengklaim Kepri adalah wilayahnya. Buat saya, ini adalah kode keras. Tetangga-tetangga yang nakal, sesekali harus diberikan peringatan keras.

Lepasnya Timor Leste adalah permainan canggih Australia dengan menggunakan UNAMED. Si Vis Pacem Para Bellum (Jika kau mendambakan perdamaian bersiaplah untuk perang) adalah kode keras untuk negara lain yang ingin usil dengan Indonesia.

Yang jadi pertanyaan, kapan kita ambil kembali Timor Leste, Pulau Pasir, dan seluruh pulau yang diklaim kembali ke pangkuan ibu Pertiwi.

Di sisi Barat kita berbatasan dengan Malaysia khususnya di wilayah Indonesia barat dan tengah, dan berhasil mengambil pulau Indonesia lewat Mahkamah Internasional. Yang jadi pertanyaan, kapan kita bisa rebut kembali pulau-pulau yang dirampok dua negara tersebut.

Indonesia tahun 2024, butuh pemimpin bertipe agresor, pemimpin penakluk. Pertanyaannya, adakah calon presiden yang akan bertarung di 2024 bertipe agresor?

Ketika seseorang tetap berkomitmen ke dalam prinsip persatuan, kebersamaan, keharmonisan, dan kemajemukan yang toleran, maka ini akan menjadi satu kekuatan penting bagi bangsa ini untuk merajut tahun 2023 sebagai tahun harmoni.

Selamat Natal dan Tahun Baru 2023. Semoga Indonesia Makin Jaya. Nusantara Bersatu, Indonesia Maju.

Carcassonne, Prancis, 30 Desember 2022. ***

Fahd El Fouz A Rafiq
Ketua Umum DPP Barisan Pemuda Nusantara (Bapera)

News Feed